Prestasi Departemen / Prodi

Imunostimulator Buatan Suprapto Ma`at Raih Habibie Award

Senin, 25 Agustus 2008 22:22 WIB | 1.832 Views

Jakarta (ANTARA News) – Dr Suprapto Ma`at Apt MS merasa bahagia hasil risetnya tentang imunostimulator dari tanaman lokal sangat diminati para produsen farmasi. Produsen farmasi mengemas temuan Suprapto itu menjadi sirup dan kapsul. Kebahagiaan pria kelahiran Banyuwangi 18 Desember 1948 itu bertambah karena penemuannya itu mendapatkan penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008. Habibie Center memberikan penghargaan itu terutama atas jerih-payahnya dan prestasinya dalam meneliti dan menemukan berbagai khasiat tanaman obat herbal. Ayah empat putra itu menceritakan, khasiat ekstrak meniran (phyllanthus niruri) ketika diuji pra-klinis pada mencit (tikus putih) telah terbukti dapat meningkatkan kekebalan. Bahkan ketika dilakukan uji klinis di berbagai rumah sakit juga terbukti bahwa khasiat ekstrak meniran berkhasiat dalam membantu penyembuhan penyakit tuberkulosis, hepatitis dan vulvovaginitis sehingga industri obat seperti PT Dexa Medika dan PT Ferron Par Pharmaceuticals sangat tertarik. Sebelumnya, ia juga telah memproduksi vaksin septicaemia epizootica, vaksin anthrax dan vaksin Brucella, serta meneliti berbagai tanaman seperti Waluh Jipang (sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD. Penanggung jawab apotik Petrokimia Gresik sejak 1982 itu selain berpengalaman bekerja di luar negeri, pada akhirnya lebih mendedikasikan pengetahuannya sebagai dosen penyakit infeksi di Fakultas Kedokteran Unair dan sekaligus sebagai peneliti obat herbal. Sejak 1996, alumnus Unair itu aktif di beberapa institusi seperti Yayasan Kanker Wisnuwardhana Surabaya untuk mengembangkan obat kanker dan memasyarakatkannya melalui program Penanggulangan Kanker Terpadu Paripurna. klik disini


Suprapto, Sang Penemu Herbal untuk Kekebalan

 Kompas.com – 22/08/2008, 13:20 WIB

“Saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun tubuh yang dikenal dengan nama immunomodulator”

JERIH payah DR.Drs Suprapto Ma’at Apt MS meneliti obat herbal selama bertahun-tahun akhirnya membuahkan hasil gemilang. Risetnya tentang khasiat ekstrak meniran  (phyllanthus niruri) telah mendapat pengakuan secara luas sehingga ia mendapat penghargaan BJ Habibie Technology Award 2008.

Habibie Center memberikan penghargaan kepada pria kelahiran Banyuwangi, 18 Desember 1948, itu atas jasa dan prestasinya melalui riset aplikatif tanaman meniran untuk Stimuno. Habibie Award diberikan dalam rangka mendorong dan menggerakkan percepatan sumber daya manusia dan memberikan apresiasi bagi mereka yang aktif dan berjasa dalam menemukan, mengembangkan kegiatan iptek yang inovatif dan signifikan.

Ayah empat putra itu menjelaskan, khasiat ekstrak meniran sebelumnya telah teruji secara praklinis pada mencit (tikus putih) dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Lalu dalam kurun beberapa tahun, dengan  bantuan produsen farmasi PT Dexa Medica,  Suprapto melakukan uji klinis di berbagai rumah sakit.

Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Formula ekstrak meniran terbukti berkhasiat dalam membantu penyembuhan berbagai macam penyakit, mulai dari tuberkulosis, hepatitis, dan vulvovaginitis. Tak heran bila hasil penelitian pria yang kini bekerja di Bagian Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini telah mendapat paten dari Dirjen HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual Indonesia) pada tahun  ini.

Ciptakan vaksin

Sebelum meneliti herbal, DR Suprapto sebelumnya banyak berkecimpung di dunia bioteknologi dan menjadi otak lahirnya berbagai vaksin penting, seperti vaksin penyakit mulut dan kuku, vaksin anthrax, dan vaksin brucella. Namun, kemudian ia beralih ke bidang yang juga tak jauh dari vaksin, yakni ilmu kekebalan tubuh (immunologi). Ia lalu gencar meneliti  khasiat berbagai tanaman, seperti meniran dan tumbuhan obat lain seperti waluh jipang (Sechium edule) yang berkhasiat menurunkan hipertrigliseridemia, daun jambu biji (Psidium guajava) yang berkhasiat memperbaiki permeabilitas pembuluh darah dan mengatasi DBD.

“Saya menilai penelitian tentang obat herbal lebih menjanjikan. Kalau kita mau meneliti obat atau menemukan suatu obat lalu kita menang dengan obat kimia, itu rasanya omong kosong. Karena apa? Teknologi kimia sintensis Indonesia sudah tertinggal 100-200 tahun. Jadi tidak mungkin penelitian menggunakan bahan kimia dilakukan di Indonesia.  Satu-satunya kalau kita mau menemukan obat asli Indonesia, hanya dengan obat herbal,” ujar DR Suprapto di Jakarta Kamis (21/8) kemarin.

Dalam pandangannya, penelitian obat herbal sangatlah prospektif karena Indonesia adalah negara terkaya di dunia dalam keanekaragaman bilogis (biodiversity).”Kita kaya akan bahan alam, semuanya dapat dimanfaatkan untuk obat tradisional,” terangnya.

Penanggung jawab apotik Petrokimia Gresik sejak 1982 itu juga menegaskan penelitian obat tradisional sebaiknya difokuskan pada jenis terapi yang belum banyak dilakukan bahan kimia. Ini sangat penting agar biaya penelitian yang dikeluarkan tidak sia-sia, selain membuat obat herbal lebih kompetitif dan lebih menguntungkan dari sisi ekonomis.

“Oleh karena itu saya berpikir, satu-satunya obat tradisional yang tidak dapat disaingi obat kimia adalah obat yang dapat mengutak-atik sistem imun yang dikenal immnunomodulator,” ujarnya.

DR Suprapto menambahkan, ektrak meniran yang dikemas dalam Stimuno adalah immnunomodulator yang bersifat imunostimulator atau dapat merangsang sistem imun agar fungsi dan aktivitasnya meningkat dan siap bekerja optimal menghadapi invasi mikroba dan virus.  Stimuno telah teruji dengan baik yakni dengan 15  uji klinis.  Obat herbal ini juga telah  memperoleh serifikat Fitofarmaka dari BPOM. klik disini


PIAGAM PENGHARGAAN

dr. Endang Retnowati K, Sp.PK(K)

EnglishIndonesian